Tak Dilengkapi HEPA Filter, Armada ATR 72 Wings Air Aman dari Virus?

Kini telah banyak armada pesawat jet angkutan komersial yang telah dilengkapi sistem HEPA (High-Efficiency Particulate Air) filter. Alat ini mampu menyaring, menyerap dan menangkap partikel yang diameternya lebih besar dari atau sama dengan 0,3 μm, termasuk virus dan kuman yang mungkin bertebaran di udara suatu ruangan.

Adanya alat ini di pesawat memiliki peran yang penting, karena mampu menghasilkan udara yang lebih bersih. Terlebih, saat ini virus Corona (Covid-19) masih merebak.

Filter udara yang memenuhi standar HEPA harus dapat memenuhi tingkat efisiensi tertentu. Standar umum yang digunakan mensyaratkan saringan udara HEPA harus menghapus atau menghilangkan 99,95% (standar Eropa) atau 99,97% (ASME, US DOE) partikel yang tersedot ke saringan.

Sayangnya, jenis pesawat bermesin turboprop seperti ATR 72 belum dilengkapi sistem HEPA filter. Lalu, bagaimana maskapai yang mengoperasikan pesawat jenis itu memastikan ruang kabin terjaga?

Wings Air berkenan memberikan informasi soal hal tersebut. Dijelaskan, volume udara kurang lebih 95 meter kubik di kabin akan selalu diperbaharui dalam waktu 5 sampai dengan 7 menit dengan mengunakan 2 buah mekanisme ECS packs Operative, 2 buah Recirculation dan Extraction Syatem yang menjamin udara dalam kabin tetap segar.

Udara yang berasal dari luar pesawat akan terkumpul di area bawah lantai. Kemudian, didistribusikan ke jalur udara utama dan pendingin udara pada kompartemen di atas tempat duduk di sepanjang kabin dan kokpit.

Aliran udara dari atas langit-langit kabin bergerak satu arah ke bawah atau lantai. Hal ini meminimalkan pergerakan udara ke arah depan dan belakang kabin. Udara akan tersedot ke area lantai melalui panel, sesuai proses pada katup aliran tekanan udara.

“Dalam rangka menjaga kesehatan dan keselamatan penerbangan, Wings Air juga telah meningkatkan fase sterilisasi seluruh armada,” ujar Komunikasi Strategis Perusahaan Wings Air, Danang Mandala Prihantoro, Selasa (23/6/2020).

Danang menjelaskan, proses pembersihan pesawat dilakukan oleh tim teknisi dan pembersih pesawat (aircraft interior exterior cleaning/ AIEC).

“Untuk pencegahan virus, intensitas sterilisasi terus dijalankan dan pengawasan komprehensif. Penyemperotan berkala cairan multiguna pembunuh kuman sesuai prosedur yang berlaku, sebelum proses penumpang masuk ke pesawat (boarding) dan ketika pesawat selesai menjalani rotasi (pergerakan),” tandasnya.

Baca Juga:

Untuk Tol Udara di Papua, Tri-MG Airlines Mau Tambah 1 Armada

Masa PSBB Transisi, Bagaimana Langkah Garuda di Semester II/2020?

Pemerintah Naikan Batas ke 70%, Okupansi Penumpang Garuda di Bawah 50%

Pemerintah Naikan Batas ke 70%, Okupansi Penumpang Garuda di Bawah 50%

Pemerintah telah menaikan batas okupansi penumpang pesawat dari 50 persen menjadi 70 persen selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi. Namun demikian, pesawat Garuda Indonesia hanya dapat terisi kurang dari 50 persen.

“Saat ini rata-rata okupansinya masih rendah di bawah 50 persen. Hari ini balik lagi, bagaimana 60 persen kembali masuk ke pesawat. Saya ingin mengatakan Garuda atau Lion (Air Group) tidak mungkin kuat lama-lama,” ungkap Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, seperti disitir Bisnis.com, Senin (22/6/2020).

Irfan menjelaskan, selama ini karakteristik penumpang Garuda memang masih didominasi masyarakat yang memang dituntut harus terbang karena alasan pekerjaan seperti pegawai negeri sipil dan BUMN. Selain itu, keperluan lain seperti menjenguk keluarga.

Menghadapi keadaan sulit ini, maskapai pelat merah tersebut saat ini fokus untuk bisa tetap bertahan hidup dan beroperasi secara lebih kompetitif.

Irfan menyebut, selama masa tatanan kebiasaan baru telah membentuk kesepakatan dan interaksi yang baru yang mungkin membuat penerbangan menjadi kurang nyaman dibandingkan dengan situasi yang normal seutuhnya pada tahun sebelumnya.

Namun demikiam, tidak bisa terelakkan dalam kondisi saat ini masyarakat harus menjaga diri di dalam pesawat dan duduk berjarak.

Satu hal yang diakui Irfan, Garuda selama ini hanya fokus kepada bisnis penumpang dan melupakan bisnis lainnya seperti kargo.

“Temen-temen GA lebih senang ngurusin penumpang karena ada interaksi. Lupa kalau ada barang (kargo), padahal lebih enak barang. Mereka tidak pernah minta upgrade kelas, enggak perlu rapid test dan lain-lain. Ini makanya kita akan dorong,” jelasnya.

Bersasarkan catatan perusahaan, hingga Mei 2020 penumpang mengalami penurunan hingga 90 persen.

Tak hanya itu, pesawat yang hibernasi hampir menyentuh level 75 persen. Jumlah pesawat yang terbang dan pesawat yang parkir berbanding terbalik dibandingkan dengan pada tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga:

Gunung Merapi Erupsi, Penerbangan di Yogyakarta dan Solo Normal

Untuk Tol Udara di Papua, Tri-MG Airlines Mau Tambah 1 Armada

Gandeng Kimia Farma, Bandara Supadio Pontianak Sediakan Rapid Test untuk Calon Penumpang

Masa PSBB Transisi, Bagaimana Langkah Garuda di Semester II/2020?

Garuda Indonesia masih mencermati dinamika jumlah penumpang pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi ini. Oleh karena itu, perusahaan maskapai penerbangan pelat merah ini belum bisa memprediksi kinerja maskapai pada semester II/2020 seiring dengan realisasi kenaikan jumlah penumpang belum signifikan.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengaku masih mencermati dinamika jumlah penumpang di masa ini untuk bisa menentukan langkah pada semester II/2020.

Dia juga akui bahwa pihaknya belum dapat memprediksikan pola keberangkatan musim angkutan natal dan tahun baru yang biasanya menjadi periode sibuk akhir tahun.

“Semua wait and see, kami masih lihat dinamika (jumlah penumpang). Masih belum signifikan dan lambat kenaikannya,” tutur Irfan, seperti disitir Bisnis.com, Senin (22/6/2020).

Sebelumnya, Irfan menyebut Garuda hanya memiliki peluang meraih pendapatan tiket penumpang menjelang akhir tahun (natal dan tahun baru). Dia mengungkaokan bahwa maskapai ini telah kehilangan empat peluang periode sibuk lainnya.

Irfan menerangkan, hingga Mei 2020, jumlah penumpang Garuda hanya menyisakan 10 persen dibandingkan dengan kondisi normal. Padahal, sepanjang tahun biasanya memiliki lima periode sibuk.

“Tinggal satu opsi saja untuk dinikmati akhir tahun. Namun ini juga belum pasti, bisa saja kita kehilangan lagi. Ini tekanan finansial, yang sangat berarti,” ungkapnya, Jum’at (19/6/2020) lalu.

Diuraikannya, empat periode sibuk yang terlewat tersebut adalah musim mudik lebaran 2020, libur sekolah pada Juni – Juli 2020 dengan mayoritas pemesanan dibatalkan, penerbangan umroh dan angkutan haji.

Baca Juga:

Gunung Merapi Erupsi, Penerbangan di Yogyakarta dan Solo Normal

Untuk Tol Udara di Papua, Tri-MG Airlines Mau Tambah 1 Armada

Gandeng Kimia Farma, Bandara Supadio Pontianak Sediakan Rapid Test untuk Calon Penumpang

Untuk Tol Udara di Papua, Tri-MG Airlines Mau Tambah 1 Armada

Untuk mendukung program tol udara yang dicanangkan pemerintah pusat, maskapai Tri-MG Airlines yang beroperasi di Papua berencana menambah satu armada pesawat. Langkah ini diambil untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di Wilayah Pegunungan Papua.

Direktur Pelaksana Tri-MG Airlines, Marco Isaak, menyebutkan, saat ini maskapai mengoperasikan satu armada pesawat jenis Boeing 737-300 untuk layanan penerbangan kargo dari Sentani tujuan Wamena.

“Karena jumlah permintaan terus bertambah, maka kita berencana menambah satu armada pesawat. Pesawat itu akan tiba di sini pada Agustus mendatang,” katanya kepada awak media di Sentani, Ahad (21/6/2020) siang, seperti disitir dari Kumparan.

Menurutnya, penambahan satu armada pesawat sebagai bentuk kontribusi Tri-MG Airlines dalam melayani dan membantu mensejahterakan masyarakat Papua.

“Ini adalah komitment kami untuk melayani masyarakat papua dalam bidang transportasi udara. Kami harap bisa membantu masyarakat Papua,” ujarnya.

“Setelah tambahan ini kita akan liat progresnya, kalau bagus maka kita akan tambah untuk penerbangan dari Sentani tujuan Timika,” sambungnya.

Isaak juga mengungkapkan, meski virus corona atau COVID-19 tengah menyerang seluruh dunia termasuk Papua, namun hal tersebut tidak berdampak pada penerbangan kargo di provinsi ini.

Menurutnya, penerbangan kargo di Papua masih stabil karena kargo yang diangkut bukan barang mahal seperti di dearah lainnya, melainkan bahan kebutuhan pokok bagi masyarakat di wilayah pegunungan Papua yang hanya bisa diakses melalui jalur udara.

“Jadi dari seluruh penerbangan milik Tri-MG Airlines yang paling stabil hanya di Papua,” katanya.

Bahkan kata Isaac, dari seluruh penerbangan kargo maskapai di sejumlah daerah di Indonesia dan beberapa negara lainnya, penerbangan di Papua lebih stabil.

“Dari semua penerbangan Tri-MG Airlines di beberapa negara seperti Indonesia, Singapura dan Malaysia, penerbangan di Papua yang paling stabil karena adanya perhatian pemerintah daerah,” tandasnya.

Baca Juga:

A-CDM, Konsep Baru yang Diterapkan AP 2 di Bandara Soekarno-Hatta

Walau Gunakan Pelindung Muka, Awak Kabin Garuda Tetap Pakai Masker

Gandeng Kimia Farma, Bandara Supadio Pontianak Sediakan Rapid Test untuk Calon Penumpang

Gunung Merapi Erupsi, Penerbangan di Yogyakarta dan Solo Normal

Gunung Merapi dilaporkan mengalami erupsi dengan kolom erupsi mencapai 6.000 meter pada Ahad (21/6/2020) pagi. Meski demikian, Airnav Indonesia menyebut aktivitas penerbangan menuju Yogyakarta dan Solo hingga siang hari terpantau normal.

“Sampai saat ini semua masih normal operasionalnya, ketiga bandara (Yogyakarta, Solo dan Kulonprogo) di luar sebaran VA (abu vulkanik),” ujar Manager Humas AirNav Indonesia, Yohanes Sirait, seperti disitir dari Liputan6.com, Ahad (21/6/2020).

Untuk diketahui, terdapat tiga bandara yang jalur penerbangannya dekat dengan Gunung Merapi. Ketiganya adalah Bandara Adi Sumarmo di Solo, Bandara Adisutjipto di Yogyakarta dan Yogyakarta International Airport di Kulon Progo.

Sebelumnya, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melalui akun resmi Twitter @BPPTKG menyampaikan bahwa Gunung Merapi kembali tercatat mengalami dua kali erupsi pada Ahad (21/6/2020) pagi.

Erupsi pertama terjadi pada pukul 09.13 WIB. Kemudian, erupsi kedua terjadi pada pukul 09.27 WIB.

Baca Juga:

A-CDM, Konsep Baru yang Diterapkan AP 2 di Bandara Soekarno-Hatta

Walau Gunakan Pelindung Muka, Awak Kabin Garuda Tetap Pakai Masker

Gandeng Kimia Farma, Bandara Supadio Pontianak Sediakan Rapid Test untuk Calon Penumpang

Gandeng Kimia Farma, Bandara Supadio Pontianak Sediakan Rapid Test untuk Calon Penumpang

Bekerjasama dengan Kimia Farma, Bandar Udara Internasional Supadio di Pontianak, Kalimantan Barat, kini membuka fasilitas rapid test untuk calon penumpang pesawat.

EGM Bandara Supadio, Eri Braliantoro mengatakan, fasilitas pemeriksaan rapid test ini diharapkan dapat menjadi alternatif dan membantu memenuhi kebutuhan calon penumpang yang akan menggunakan jasa layanan angkutan udara.

“Hasil rapid test merupakan persyaratan mandatory (wajib) yang harus dipenuhi bagi para calon penumpang. Rapid test hanya berlaku 3 hari, sedangkan PCR tes dapat berlaku sampai dengan 7 hari,” kata Eri dalam keterangan tertulis, Jum’at (19/6/2020).

Gerai pelayanan rapid test tersebut berada di bekas Gedung VIP yang berada di sebelah barat laut terminal kedatangan bandara ini. Layanan telah dibuka sejak Kamis (17/6/2020) lalu.

Diterangkan Eri, penyediaan fasilitas ini merupakan hasil kerja sama antara PT Angkasa Pura Solusi dengan Kimia Farma atau Biofarma Group selaku holding BUMN Farmasi.

Eri menjelaskan, layanan rapid test ini bukan fasilitas bandara, melainkan bagian dari kegiatan mitra usaha, sama seperti gerai yang lain.

Eri berharap, calon penumpang yang akan bepergian melalui Bandara Supadio disarankan sudah berada di bandara, sekitar tiga hingga empat jam sebelum penerbangan. Hal ini untuk melengkapi semua persyaratan atau berkas yang diperlukan.

Jadi ada penumpang yang belum mengikuti rapid test, bisa menggunakan fasilitas di bandara.

“Kalau tidak salah, hasilnya itu bisa keluar sekitar 15 hingga 20 menit setelah kita mengikuti,” ujar Eri.

Manager Area Kimia Farma Diagnostika Kalimantan, Framiarta menambahkan, pihaknya sengaja menyediakan tempat pelaksanaan rapid test di sekitar bandara untuk memudahkan penumpang.

Soal biaya, Framiarta mengatakan pihaknya mematok harga Rp280.000 untuk satu kali rapid test.  Rinciannya, Rp225.000 untuk pelaksanaan rapid test dan Rp55.000 untuk biaya konsultasi dokter.

“Selain hasil rapid test, nantinya juga ada surat keterangan sehat dari dokternya,” Framiarta.

Adapun syarat untuk mengikuti tes tersebut, untuk orang dewasa cukup dengan melampirkan KTP. Sedangkan bagi anak-anak bisa menggunakan kartu keluarga.

“Karena hasil rapid test ini juga akan kami laporkan ke pihak KKP setiap harinya,” ujar Framiarta.

Baca Juga:

Di Bandara AP 1, Mitra Usaha Harus Menerapkan 9 Hal Ini

Garuda Indonesia Mau Buka Rute Penerbangan Langsung ke Eropa dan AS

A-CDM, Konsep Baru yang Diterapkan AP 2 di Bandara Soekarno-Hatta

Walau Gunakan Pelindung Muka, Awak Kabin Garuda Tetap Pakai Masker

Rencana penggunaan pelindung muka (face shield) oleh awak kabin Garuda Indonesia, pada prinsipnya merupakan alat pelindung diri (APD) pelengkap atau tambahan. Face shield tidak menggantikan masker, yang saat ini telah dipakai oleh awak kabin Garuda.

Demikian disampaikan Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dalam siaran pers, Jumat (19/6/2020). “Kami terus meningkatkan kualitas fasilitas dan layanan pada seluruh lini operasional, khususnya yang berkaitan langsung dengan penumpang, salah satunya adalah penggunaan kelengkapan APD standar bagi awak kabin, seperti masker dan sarung tangan,” ucapnya.

Irfan menambahkan, “Saat ini kami juga tengah mempersiapkan penggunaan APD penunjang lainnya, berupa face shield, hingga rencana penggunaan apron (celemek) sekali pakai untuk awak kabin ketika menyajikan makanan kepada penumpang.”

Secara berkelanjutan, kata Irfan, Garuda terus melakukan evaluasi terhadap penggunaan kelengkapan APD yang paling sesuai dan aman digunakan awak kabin selama penerbangan. APD ini juga harus memberikan kenyamanan dan keleluasaan berinteraksi dengan pengguna jasa. “Tentunya tetap mengacu pada aspek regulasi dan safety,” tegasnya.

Dijelaskan pula, dalam memasuki era new normal, Garuda bergerak adaptif mengoptimalkan kualitas layanan. Di samping itu juga secara konsisten menjalankan protokol kesehatan demi menjaga kepercayaan dan minat pengguna jasa untuk kembali merencanakan perjalanan menggunakan layanan transportasi udara.

Baca Juga:

Di Bandara AP 1, Mitra Usaha Harus Menerapkan 9 Hal Ini

Garuda Indonesia Mau Buka Rute Penerbangan Langsung ke Eropa dan AS

A-CDM, Konsep Baru yang Diterapkan AP 2 di Bandara Soekarno-Hatta

A-CDM, Konsep Baru yang Diterapkan AP 2 di Bandara Soekarno-Hatta

Runway 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Angkasa Pura II (AP 2) tengah menyiapkan konsep Airport Collaborative Decision Making (A-CDM), yang pada tahap awal akan diimplementasikan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Dijelaskan Presiden Direktur AP 2, Muhammad Awaluddin, A-CDM menciptakan kolaborasi lebih erat antara AP 2 sebagai operator bandara, penyedia jasa navigasi penerbangan (AirNav Indonesia), maskapai, penyedia jasa ground handling dan stakeholder lainnya guna meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam operasional penerbangan.

“PT Angkasa Pura II mengajak seluruh stakeholder di Bandara Soekarno-Hatta untuk mengimplementasikan A-CDM di tengah pandemi ini agar efektifitas dan efisiensi dapat meningkat,” ujar Awaluddin, Jum’at (19/6/2020).

Kata dia, A-CDM belum pernah diimplementasikan di Indonesia, dan Bandara Soekarno-Hatta akan menjadi bandara pertama yang menerapkan konsep tersebut.

Sebagai bagian dari implementasi A-CDM, stakeholder di Bandara Soekarno-Hatta akan terhubung di satu platform digital yang memuat berbagai data terkait operasional bandara dan penerbangan yang disediakan oleh stakeholder.

Sebagai contoh, AP 2 menyediakan informasi penerbangan secara realtime, rencana lokasi parkir bagi pesawat dan gate keberangkatan penumpang secara realtime, dan status koordinasi di dalam proses A-CDM itu sendiri.

“Operator bandara akan berperan seperti ketua komite di dalam A-CDM ini, sehingga juga mengawasi jalannya koordinasi di dalam A-CDM,” jelas Awaluddin.

Sementara maskapai menyediakan rencana penerbangan secara realtime, termasuk jenis pesawat, jumlah penumpang dan sebagainya. Maskapai juga menyediakan informasi mengenai target waktu pesawat siap beranjak dari tempat parkir (Target Off-Block Time/ TOBT) untuk diberangkatkan.

Adapun AirNav Indonesia menyediakan informasi mengenai penggunaan runway yang sedang digunakan, rencana penggunaan runway, kapasitas runway, dan informasi lainnya terkait lalu lintas penerbangan.

“Melalui kolaborasi yang lebih erat lewat A-CDM maka efesiensi dan efektifitas dapat dicapai. Contohnya, kolaborasi yang lebih baik dan cepat dalam menjaga konsistensi ketepatan waktu penerbangan (on-time performance/ OTP).”

“Target pesawat siap beranjak dari tempat parkir (TOBT) dapat dipenuhi, untuk kemudian pesawat menuju taxiway dan runway, lalu take-off. Keseluruhan proses tersebut dapat dilakukan dengan persiapan yang lebih matang, lebih cepat dan konsisten melalui A-CDM.”

Baca Juga:

Tren Kenaikan Penumpang di Bandara Sultan Hasanuddin yang Tertinggi

Sriwijaya Air Group Sediakan 5 Fasilitas Rapid Test untuk Umum

Daftar Terminal dan Maskapai yang beroperasi di Soekarno-Hatta

Garuda Indonesia Mau Buka Rute Penerbangan Langsung ke Eropa dan AS

A330-900neo

Garuda Indonesia berencana akan membuka rute penerbangan langsung ke Eropa dan Amerika Serikat. Langkah ini dicetuskan untuk menarik penerimaan devisa dari kunjungan turis asing.

“Ada diskusi, Garuda diminta terbang langsung ke kota-kota seperti Paris, lalu negara seperti Amerika, Eropa, hingga India. Jadi based on data, mana yang schedule-nya banyak,” ujar Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dalam diskusi virtual, Jum’at (19/6/2020).

Disitir dari Tempo.co, Irfan menerangkan, pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Menteri Pariwisata dan Menteri Perhubungan terkait hal tersebut. Sebab, kebijakan ini sejalan dengan langkah pemerintah untuk meningkatkan penerimaan devisa dari sisi kualitas turis asing.

Mengapa memilih penerbangan langsung ketimbang transit? Menurut Irfan, bila penerbangan dilakukan secara transit, pengeluaran pelancong akan berkurang di negara persinggahan.

Irfan mencontohkan, turis Paris yang akan ke Bali, tapi penerbangannya harus transit di Bangkok. Menurutnya, ongkos belanja turis itu pasti akan berkurang karena sudah dibelanjakan di sana. Sehingga, devisa yang didapat Indonesia menjadi tidak maksimal.

“Jadi kalau kita buka rute penerbangan baru, ya fokusnya. Misalnya dari Paris langsung ke Denpasar,” ujarnya.

Namun, lanjutnya, kebijakan ini harus didukung oleh adanya passenger service obligation (PSO) dari pemerintah.

“Kami sedang komunikasikan apakah mungkin jadwal-jadwal terbang itu klasifikasinya PSO bisa disubsidi oleh pemerintah,” tutupnya.

Baca Juga:

Tren Kenaikan Penumpang di Bandara Sultan Hasanuddin yang Tertinggi

Sriwijaya Air Group Sediakan 5 Fasilitas Rapid Test untuk Umum

Daftar Terminal dan Maskapai yang beroperasi di Soekarno-Hatta

Di Bandara AP 1, Mitra Usaha Harus Menerapkan 9 Hal Ini

Angkasa Pura I (AP 1) mendorong mitra usaha atau tenant di bandara untuk menerapkan adaptasi kebiasaan baru dalam pelayanan kepada pengguna jasa bandara atau penumpang pesawat.

Direktur Utama AP 1, Faik Fahmi menyampaikan bahwa penerapan prosedur pelayanan dalam masa adaptasi kebiasaan baru (new normal) merupakan komitmen AP 1 untuk mendukung upaya pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Berikut sembilan hal yang AP 1 terapkan bagi mitra usaha:

1. Menyediakan peralatan pelindung yang mungkin dibutuhkan karyawan, seperti pelindung wajah, sarung tangan, masker dan pemeriksaan kondisi kesehatan (< 38ºC).

2. Penyesuaian ruang kerja dan bisnis sesuai dengan panduan jarak fisik yang berlaku.

3. Penyediaan beberapa stasiun pembersih tangan dan atau wastafel di seluruh area disertai dengan rambu/ petunjuk yang memadai untuk penumpang.

4. Mempertimbangkan langkah-langkah perlindungan baru jika ada, seperti pemasangan perisai plexiglass antara karyawan yang berhadapan dengan pelanggan.

5. Menganjurkan penggunaan tiang penopang antrean dan atau marka lantai untuk mengampanyekan penerapan jaga jarak fisik.

6. Meningkatkan kebersihan, pembersihan, dan disinfeksi sebelum dan sesudah digunakan serta menyesuaikan jumlah staf yang dialokasikan untuk pelaksanaan pembersihan berdasarkan kapasitas atau volume penerbangan dan penumpang.

7. Implementasi pengaturan sirkulasi, jumlah pengunjung atau antrean dan batas waktu kunjungan di pintu masuk dan keluar untuk mencegah keramaian atau kerumunan.

8. Menyaratkan penggunaan peralatan makan sekali pakai dan penyediaan makanan dan minuman dalam kemasan untuk dibawa pulang dan atau dimakan di tempat.

9. Mengelola limbah secara efisien untuk meminimalkan penyebaran penyakit ke seluruh siklus hidup pemangku kepentingan dan titik kontak pengelolaan limbah.

10. Sedangkan kepada petugas operasional bandara, perusahaan mewajibkan penggunaan sejumlah jenis alat pelindung diri (APD) seperti kacamata pelindung, pelindung wajah, masker, dan sarung tangan.

“Selain itu, untuk pelaksanaan physical distancing, kami telah melakukan pengaturan jarak antrian minimal 1,5 meter pada area check-in counter, security check point, imigrasi, boarding lounge, garbarata, area baggage claim serta area tunggu transportasi publik.”

Penggunaan teknologi juga dilakukan melalui Airport Operation Control Center (AOCC) yang berfungsi untuk mengendalikan dan memonitor operasional bandara secara realtime dan memastikan penerapan protokol kesehatan pencegahan penyebaran COVID-19.

“Selain itu, diterapkan juga online customer service, boarding pass scanner serta digital meeting point (DMP) untuk meminimalisir interaksi langsung dengan penumpang dan mempermudah penjemputan penumpang, khususnya di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali,” kata Faik, Kamis (18/6/2020).

Baca Juga:

Tren Kenaikan Penumpang di Bandara Sultan Hasanuddin yang Tertinggi

Sriwijaya Air Group Sediakan 5 Fasilitas Rapid Test untuk Umum

Daftar Terminal dan Maskapai yang beroperasi di Soekarno-Hatta

Daftar Terminal dan Maskapai yang beroperasi di Soekarno-Hatta

tiket pesawat

Di tengah pandemi COVID-19, Bandara Internasional Soekarno-Hatta melayani seluruh penerbangan di Terminal 2D dan 2E serta Terminal 3. Untuk sementara waktu, Terminal 1 (1A, 1B, 1C) dan Terminal 2F LCC tidak dioperasikan.

Presiden Direktur Angkasa Pura II (AP 2) Muhammad Awaluddin mengatakan, keputusan ini didasari 3 pertimbangan. Pertama, adalah penyesuaian pola operasional di tengah pandemi guna membuat Soekarno-Hatta beraktivitas secara efektif.

AP 2 menetapkan bandara ini untuk menjalani pola operasional Minimum Operation Level I, menyesuaikan dengan lalu lintas penerbangan yang ada.

“Penutupan Terminal 1 dan Terminal 2F juga didasari pertimbangan kedua, yakni efektifitas operasional. Seluruh penerbangan kini dioperasikan Terminal 2D & 2E serta Terminal 3. Dengan demikian, Bandara Soekarno-Hatta saat ini beroperasi secara efektif dan efisien, tetap siaga 24 jam,” terang Awaluddin, Rabu (17/6/2020).

Pertimbangan ketiga, penutupan Terminal 1 dan 2F dilakukan dalam rangka percepatan program revitalisasi gedung terminal yang saat ini masih berlangsung di Terminal 1C dan Terminal 2F.

Berikut daftar maskapai yang beroperasi di Bandara Soekarno-Hatta:

– Terminal 2D: Citilink, Sriwijaya, Airfast, Trigana Air, NAM Air, Express Air
– Terminal 2E: AirAsia Indonesia (akan beroperasi 19 Juni 2020), Batik Air dan Lion Air
– Terminal 3: Garuda Indonesia (domestik & internasional), Cathay Pacific, Ethiopian Airlines, All Nippon Airlines, Japan Airlines, Lion Air (internasional), Korean Air, Qatar Airways, Thai Lion, Singapore Airlines.

Baca Juga:

Garuda Senang Dapat Sinyal dari Pemerintah Boleh Naikkan Tarif

Tren Penumpang Pesawat di Bandara AP 1 Mulai Merangkak Naik

Tren Kenaikan Penumpang di Bandara Sultan Hasanuddin yang Tertinggi

 

Sriwijaya Air Group Sediakan 5 Fasilitas Rapid Test untuk Umum

Sriwijaya Air Group menyediakan fasilitas rapid test yang tersebar di lima titik di Indonesia. Trobosan ini bukan hanya memberi kemudahan bagi para calon penumpangnya yang akan melakukan perjalanan udara, tapi juga bagi masyarakat umum.

“Sriwijaya Air menyediakan rapid test ini agar semakin memudahkan para calon penumpang transportasi udara untuk memenuhi aturan wajib yang berlaku dalam melaksanakan penerbangan,” ujar Direktur Utama Sriwijaya Air, Jefferson Jauwena dalam siaran pers, Rabu (17/6/2020).

Kata dia, fasilitas rapid test ini sudah mulai melayani dan terbuka untuk umum.

“Sehingga, siapapun masyarakat yang membutuhkan rapid test bisa langsung datang di lima lokasi pelaksanaannya tersebut. Dan untuk harganya pun sangat terjangkau,” imbuhnya.

Disebutkan Jefferson, kelima titik tersebut berlokasi di Sriwijaya Air Tower, Cengkareng; Sales Office Sriwijaya Air Melawai, Jakarta; Sales Office Sriwijaya Air Makassar, Sulawesi Selatan; dan Sales Office Sriwjaya Air Pontianak, Kalimantan Barat. Terakhir, fasilitas ini juga tersedia di Sorong, Papua Barat.

“Atas jalinan kerja sama dengan UPBU Bandara Domine Eduard Osok, fasilitas ini juga tersedia di Sorong,” kata dia.

Jefferson juga mengajak masyarakat calon penumpang jasa transportasi udara untuk memanfaatkan fasilitas tersebut untuk semakin memudahkan rencana perjalanan mereka.

“Fasilitas rapid test ini akan segera kami sediakan pada beberapa Sales Office Sriwijaya Air lainnya,” tandasnya.

Baca Juga:

Garuda Senang Dapat Sinyal dari Pemerintah Boleh Naikkan Tarif

Tren Penumpang Pesawat di Bandara AP 1 Mulai Merangkak Naik

Tren Kenaikan Penumpang di Bandara Sultan Hasanuddin yang Tertinggi

 

Tren Kenaikan Penumpang di Bandara Sultan Hasanuddin yang Tertinggi

Angkasa Pura I (AP 1) melaporkan, pada periode awal Juni ini, Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar melayani pergerakan penumpang yang tertinggi di banding bandara lain yang dikelolanya.

Berdasarkan catatan perusahaan, tren trafik penumpang pesawat di bandara itu mencapai 53.940 orang dengan 996 pergerakan pesawat.

Sementara trafik penumpang tertinggi kedua terjadi di Bandara Juanda Surabaya, yakni 50.261 pergerakan orang dengan 886 pergerakan pesawat. Kemudian disusul Bandara SAMS Sepinggan di B.alikpapan, yaitu 34.345 orang dengan 659 pergerakan pesawat.

“Bandara Sultan Hasanuddin Makassar melayani trafik penumpang tertinggi disebabkan karena bandara tersebut merupakan bandara transit atau hub yang menghubungkan dengan bandara-bandara lain di wilayah timur Indonesia,” terang Direktur Utama AP 1, Faik Fahmi dalam siaran pers, Rabu (17/6/2020).

Secara kumulatif, tren pergerakan penumpang pesawat di bandara-bandara dilaporkan mulai merangkak naik. Pada 1-15 Juni 2020, AP 1 melayani 5.628 pergerakan pesawat dengan 222.040 penumpang dan 12,9 juta kg kargo di 15 bandara.

Perusahaan menyebut bahwa tren penumpang pada awal Juni ini menunjukkan peningkatan dibanding trafik pada Mei 2020 yang hanya sebesar 76.841 penumpang.

“Pada awal hingga pertengahan Juni ini, indikasi peningkatan trafik penumpang sudah terlihat dibandingkan Mei lalu, di mana pada Mei diberlakukan pembatasan transportasi,” kata Faik.

Faik menyebutkan, pada periode Januari-Mei 2020, trafik penumpang tertinggi terjadi di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dengan 4.768.342 penumpang. Namun penurunan trafik penumpang tertinggi juga terjadi di ini. Penurunan mencapai 47,13 persen dari trafik periode yang sama tahun lalu yang mencapai 9.019.366 penumpang.

Trafik tertinggi kedua terjadi di Bandara Juanda yaitu sebesar 3.897.887 penumpang. Sedangkan trafik tertinggi ketiga pada periode ini terjadi di Bandara Sultan Hasanuddin yaitu sebesar 2.704.484 penumpang.

Baca Juga:

Garuda Indonesia Belum Buka Penerbangan ke Timur Tengah dan Cina

Begini Cara AP 2 Pertahankan Bisnis di Tengah Covid-19

Rapid Test Bisa Dilakukan di 4 Kantor Cabang Sriwijaya Air

Tren Penumpang Pesawat di Bandara AP 1 Mulai Merangkak Naik

Tren pergerakan penumpang pesawat di bandara-bandara yang dikelola Angkasa Pura I (AP 1) dilaporkan mulai merangkak naik.

Pada 1-15 Juni 2020, AP 1 melayani 5.628 pergerakan pesawat dengan 222.040 penumpang dan 12,9 juta kg kargo di 15 bandara.

Perusahaan menyebut bahwa tren penumpang pada awal Juni ini menunjukkan peningkatan dibanding trafik pada Mei 2020 yang hanya sebesar 76.841 penumpang.

“Pada awal hingga pertengahan Juni ini, indikasi peningkatan trafik penumpang sudah terlihat dibandingkan Mei lalu, di mana pada Mei diberlakukan pembatasan transportasi,” tutur Direktur Utama AP 1, Faik Fahmi dalam siaran pers, Rabu (17/6/2020).

Faik mengaku AP 1 optimis tren positif ini akan terus mengalami peningkatan ke depannya, meski secara perlahan.

Selama periode Januari-Mei 2020, AP 1 melayani 18,7 juta penumpang. Jumlah tersebut turun 40,36 persen dari jumlah trafik pada periode yang sama di tahun lalu yang mencapai 31,4 juta penumpang.

Trafik pesawat pada periode Januari-Mei 2020 sebanyak 199.858 pergerakan, turun 34,09 persen dibanding periode yang sama pada 2019 lalu yang sebanyak 303.223 pergerakan.

Penurunan trafik juga terjadi pada kargo walaupun tidak setajam penurunan trafik penumpang dan pesawat. Trafik kargo pada periode Januari-Mei 2020 sebesar 143.954.153 kg, turun 28,68 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 243.866.529 kg.

Diuraikan secara rinci, trafik penumpang pada Januari 2020 sebanyak 7.067.556 orang, Februari 6.050.373 orang, Maret 4.673.220 orang, dan April sebanyak 860.765 penumpang.

“Trafik penumpang terendah terjadi pada Mei lalu yang hanya mencapai 76.841 penumpang. Hal ini merupakan dampak dari kebijakan pengendalian transportasi dan perjalanan orang dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19, khususnya pada masa larangan mudik Lebaran,” tandas Faik.

Baca Juga:

Garuda Indonesia Belum Buka Penerbangan ke Timur Tengah dan Cina

Begini Cara AP 2 Pertahankan Bisnis di Tengah Covid-19

Rapid Test Bisa Dilakukan di 4 Kantor Cabang Sriwijaya Air

Garuda Senang Dapat Sinyal dari Pemerintah Boleh Naikkan Tarif

Pemerintah memberi sinyal bahwa maskapai boleh menaikkan harga tiket pesawat hingga mendekati tarif batas atas (TBA). Hal ini untuk menjaga kesehatan keuangan maskapai di tengah pandemi Covid-19.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra pun menyambut baik hal tersebut. Dia juga mengaku tertarik untuk menaikkan tarif tiket pesawat. Namun demikian, opsi tersebut masih akan melihat daya beli masyarakat saat ini.

“Mau menaikkan harga? Oh senang sekali kalau pemerintah membolehkan, kami mau, dan masyarakat yang mau naik pesawat juga bersedia dinaikkan harganya,” ungkap Irfan dalam sebuah diskusi virtual, Selasa (16/6/2020).

Irfan memahami bahwa di tengah pandemi ini daya beli masyarakat mengalami penurunan. Oleh sebab itu, pihaknya masih mempertimbangkan opsi tersebut. “Kita juga tahu dirilah, kan kita semua sedang dalam kesulitan,” cetusnya.

Dijelaskan Irfan, dengan kondisi penuh tantangan seperti saat ini, maskapai bisa mengalami mati suri. Salah satu penyebab batasan okupansi penumpang dalam setiap penerbangan demi mengutamakan pencegahan penyebaran Covid-19.

Baca Juga:

Garuda Indonesia Belum Buka Penerbangan ke Timur Tengah dan Cina

Begini Cara AP 2 Pertahankan Bisnis di Tengah Covid-19

Rapid Test Bisa Dilakukan di 4 Kantor Cabang Sriwijaya Air

Meski pemerintah telah menaikkan batas maksimal okupansi dari 50 persen menjadi 70 persen, namun maskapai pelat merah ini justru mematok jumlah maksimal penumpang dalam setiap penerbangan hanya 63 persen dari total kursi yang disediakan.

“Karena kami ada business class, jadi kapasitas kami hanya bisa maksimal 63 persen jika sisi tengah dikosongkan,” terangnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Ridwan Djamaluddin mengatakan, maskapai diperbolehkan untuk menaikkan harga tiket pesawat, mendekati TBA.

Hal tersebut dapat dilakukan guna mengimbangi pembatasan jumlah penumpang pesawat (okupansi 70 persen) yang diatur oleh pemerintah. “Maka silakan kalau mau menaikkan harga,” ujar Ridwan dalam sebuah diskusi virtual, Senin (15/6/2020).

DPR RI Kritik Dana Talangan Garuda Indonesia, Kemenkeu Bersuara

Terkait kritik Anggota Komisi I DPR RI, Adian Napitupulu ihwal opsi dana talangan pemerintah untuk maskapai Garuda Indonesia, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) masih enggan berkomentar secara rinci.

Pihak Kementerian hanya menjelaskan bahwa kebijaksanaan tentang bantuan kepada perusahaan maskapai penerbangan pelat merah ini sudah akan dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

“Memang turunan PP (Peraturan Pemerintah) kan nanti ada PMK tentang PMN (Penyertaan Modal Negara) dan investasi pemerintah,” ujar Staf Khusus Bidang Komunikasi Strategis Kementerian Keuangan, Yustinus Prastowo, disitir dari Tempo.co, Selasa (16/6/2020).

Kata Prastowo, saat ini Kemenkeu telah merampungkan PMK tentang investasi dan sudah diundangkan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 53/PMK.05/2020. PMK ini adalah turunan dari PP Nomor 23 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Tapi skema kan harus difinalkan, mana yang sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Baca Juga:

Baca Juga:

Garuda Indonesia Belum Buka Penerbangan ke Timur Tengah dan Cina

Begini Cara AP 2 Pertahankan Bisnis di Tengah Covid-19

Rapid Test Bisa Dilakukan di 4 Kantor Cabang Sriwijaya Air

Dia menyebutkan, kebijaksanaan penyelamatan Garuda Indonesia dengan dana Talangan sudah disusun sejak awal sebagai rencana pemerintah memulihkan ekonomi nasional. “Bukan karena ada tulisan (Adian) itu,” tegasnya.

Garuda diwacanakan akan mendapat dana talangan senilai Rp8,5 triliun, yang akan dimanfaatkan untuk modal kerja. Perusahaan mengalami kesulitan likuiditas selama masa pandemi Covid-19.

Adian kemudian mencetuskan bahwa dana talangan berpotensi menimbulkan masalah. Menurutnya, hal itu tidak tercantum dalam PP Nomor 23 Tahun 2020.

Jika dana talangan diberikan, Adian memandang kebijaksanaan ini akan melanggar melanggar Perpu Nomor 1 Tahun 2020 yang disahkan menjadi Undang-undang Nomor 2 Tahun 2020.

“Jika dipaksakan, Garuda mungkin bisa selamat, pemegang saham non-pemerintah bisa selamat. Tapi Presiden, posisinya bisa ‘tidak selamat’,” kata Adian dalam keterangannya, Ahad (14/6/2020).

Adian menjabarkan, isi PP Nomor 23 Tahun 2020 untuk pemulihan BUMN yang terdampak pandemi, mulai Penyertaan Modal Negara (PMN), penempatan dana, investasi pemerintah, hingga penjaminan.

Dari semuanya, kata dia, tak ada satu pun yang membahas soal dana talangan. Karena itu, menurut dia, pemerintah lebih mungkin membantu Garuda Indonesia dalam bentuk PMN atau investasi pemerintah.

Garuda Indonesia Patok Kapasitas Penumpang Hanya 63 Persen

Airbus A330-900 neo Garuda Indonesia.

Dengan diterbitkannya Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2020 tentang Operasional Transportasi Udara dalam Masa Kegiatan Masyarakat Produktif dan Aman dari COVID-19, pemerintah meningkatkan kapasitas penumpang pesawat dalam setiap penerbangan maksimal 70 persen dari sebelumnya hanya 50 persen.

Namun demikian, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengungkapkan bahwa ketentuan tersebut tidak bisa sepenuhnya diterapkan di maskapai yang ia pimpin.

Disitir dari detik.com, Irfan menjelaskan bahwa konfigurasi kursi yang berbeda dengan maskapai dalam negeri lainnya serta protokol penjarakan fisik (physical distancing), batas kapasitas penumpang di Garuda maksimal hanya 63 persen.

“Tapi itu kalau untuk khususnya Garuda jatuhnya 63 persen. Karena tempat duduk (armada Boeing) 737 kita itu tengahnya kosong. Kita kan juga ada business class, nah itu jadi sendiri-sendiri,” terang Irfan dalam webinar Studium Generale Binus University, Selasa (16/6/2020).

Dengan kapasitas tersebut, dia memandang operasional layanan penerbangan tak cukup untuk menghidupi maskapai.

“Apakah itu cukup untuk menghidupi kita? Tentunya tidak, jawabannya tegas sekali nggak. Tapi kan pilihannya jelas hari ini,” ucap dia.

Baca Juga:

Garuda Indonesia Belum Buka Penerbangan ke Timur Tengah dan Cina

Begini Cara AP 2 Pertahankan Bisnis di Tengah Covid-19

Rapid Test Bisa Dilakukan di 4 Kantor Cabang Sriwijaya Air

Meski perusahaan sangat tertekan dengan kondisi yang penuh tantangan saat ini, namun Irfan menyebut tidak akan memaksakan armada pesawat Garuda mengangkut penumpang dengan kapasitas maksimum.

“Kalau kita ngotot mau ngisi 100 persen, saya sampaikan ke teman-teman di penerbangan, jangan ngotot 100 persen-lah. This is not about us, ini bukan persoalan kita ngotot dengan teman-teman di Departemen Perhubungan. Begitu ini 100 persen, dempet-dempetan di pesawat, yang terjadi masyarakat nggak confident dengan transportasi udara,” urainya.

Selain itu, dia berasumsi bahwa dengan memaksakan kapasitas penumpang 100 persen, pada akhirnya akan memperlambat pemulihan perusahaan di tengah pandemi.

“Kalau masyarakat nggak confident apa yang terjadi? Recovery process kita, yang menurut banyak analis penebangan 2-3 tahun ini makin panjang. Dan kalau recovery nggak cukup, survival mood kita makin nambah. Dalam teori apa pun, survival mood itu nggak bisa lama-lama, itu sudah dying, mati suri kalau lama-lama,” tandasnya.

Garuda Indonesia Belum Buka Penerbangan ke Timur Tengah dan Cina

A330-900neo

Maskapai Garuda Indonesia masih belum membuka penerbangan rute internasional di kawasan MEA (Middle East) dan Cina hingga Senin (15/6/2020).

Sementara di kawasan lain seperti SWP (South West Pacific/ Australia), JPK (Jepang Korea), EUR (Eropa) dan ASA (Asia) masih berlaku skema pengurangan frekuensi sebesar 60 hingga 80 persen dari total frekuensi normal.

“Pengurangan frekuensi ini bersifat fluktuatif tiap harinya, di mana disesuaikan dengan demand dan perkembangan kondisi di negara ataupun daerah tersebut,” terang manajemen Garuda Indonesia di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin.

Sejak pandemi Covid-19 berlangsung, maskapai pelat merah tersebut mengalami penurunan dari sisi produksi. Hal ini seiring dengan kebijakan pemerintah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah provinsi/daerah serta negara lainnya.

Untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan kinerja keuangan Garuda Indonesia di kondisi penuh tantangan seperti ini, terdapat sejumlah rencana strategis yang telah disiapkan, baik dari sisi keuangan dan operasional.

Rencana yang akan dilakukan manajemen Garuda Indonesia dari aspek keuangan, di antaranya akan melakukan negosiasi dengan lessor untuk penundaan pembayaran sewa pesawat (lease holiday). Kemudian, memperpanjang masa sewa pesawat untuk mengurangi biaya sewa per bulan.

Lalu, dari segi operasional manajemen akan melakukan optimalisasi frekuensi dan kapasitas penerbangan, baik rute domestik maupun internasional.

Selanjutnya, mengoptimalkan layanan kargo dan aktif mendukung upaya-upaya pemerintah, khususnya yang terkait dengan penanganan COVID 19 seperti pengangkutan bantuan kemanusiaan, APD, obat-obatan, alat kesehatan.

Baca juga:

Begini Cara AP 2 Pertahankan Bisnis di Tengah Covid-19

Penumpang Pesawat Mulai Bergairah, Benarkah?

Rapid Test Bisa Dilakukan di 4 Kantor Cabang Sriwijaya Air

Begini Cara AP 2 Pertahankan Bisnis di Tengah Covid-19

Untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya, Angkasa Pura II (AP 2) memiliki cara atau strategi tersendiri. Perseroan membeberkan, ada tiga program yang dijalankan, yakni menekan biaya operasional, memangkas belanja modal dan memperketat manajemen arus kas.

Diungkapkan Presiden Direktur AP 2, Muhammad Awaluddin, tiga program tersebut merupakan bagian dari upaya mempertahankan kelangsungan bisnis yang dijalankan sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia Maret 2020.

“Fokus di dalam business survival itu adalah memperhitungkan pengeluaran dengan ketat melalui program Cost Leadership, lalu memangkas capex (capital expenditure), serta memperketat cash flow management,” ujar Awaluddin, Sabtu (13/6/2020).

Pada awal 2020 AP 2 menetapkan belanja modal sebesar Rp7,8 triliun. Namun seiring dengan pandemi, angka itu dipangkas menjadi Rp1,4 triliun, dan kemudian diperketat lagi menjadi Rp1,1 triliun.

Kata Awaluddin, belanja modal tahun ini digunakan khusus untuk proyek yang bersifat multitahun, pemeliharaan fasilitas, serta perumusan desain Terminal 4 Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

“Tahun ini bukan tahun ekspansi bagi PT Angkasa Pura II, karena kami memperhitungkan segala sesuatunya di tengah pandemi ini,” ujar Awaluddin.

AP 2 juga memperketat penghematan dari sisi operasional 19 bandara. Misalnya, menekan biaya fasilitas dan layanan nonprioritas. Perusahaan memperhatikan kondisi saat ini, di mana lalu lintas penumpang pesawat juga berkurang.

Salah satu contoh penghematan yang dilakukan di Bandara Soekarno-Hatta adalah menutup sementara Terminal 1 dan Terminal 2F, serta menghentikan operasional Skytrain.

“Melalui Cost Leadership, penghematan dari sisi operasional di 19 bandara cukup besar. Bisa dilakukan penghematan hingga 70% dari perkiraan cost yang kami perkirakan pada awal tahun. Secara grup termasuk anak usaha, penghematan bisa dilakukan mencapai 60%,” kata Awaluddin.

Diakui Awaluddin, arus kas masuk di masa pandemi ini memang tengah tertekan dikarenakan lalu lintas penumpang turun. Namun dia menyebut keadaan ini masih didukung dari tetap terjaganya bisnis angkutan kargo. Sejumlah bank termasuk yang ada di dalam Himbara juga telah memberikan fasilitas pinjaman ke PT Angkasa Pura II.

“Kami berupaya menyeimbangkan arus kas masuk dan arus kas keluar di tengah pandemi ini. Hingga saat ini, PT Angkasa Pura II mampu menjaga (arus kas) ini,” tandasnya.

Baca juga:

Penumpang Pesawat Mulai Bergairah, Benarkah?

Rapid Test Bisa Dilakukan di 4 Kantor Cabang Sriwijaya Air

Rapid Test Bisa Dilakukan di 4 Kantor Cabang Sriwijaya Air

Demi memfasilitasi para calon penumpangnya, maskapai Sriwijaya Air menyediakan layanan pemeriksaan reaktif Covid-19 atau rapid test yang berlokasi di empat kantor cabang.

“Terbang lebih aman dan nyaman, kini rapid test bisa dilakukan langsung di kantor cabang Sriwijaya Air,” tulis maskapai yang diunggah pada akun Instagram resmi @sriwijayaair, Jum’at (12/6/2020).

Keempat kantor cabang tersebut adalah Head Office Sriwijaya dan Nam Air di Tangerang, Banten; Sales Office Melawai di Jalan Melawai Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan; dan Sales Office Makassar di Jalan Boulevard Raya Nomor 6-7, Panukang Mas, Makassar. Kemudian, layanan ini juga berlokasi di Airport Sales Office Sorong, Papua Barat.

Terkait tarif layanan pemeriksaan reaktif Covid-19 ini, maskapai mematok seharga Rp350.000. Namun khusus di Sorong, tarif layanannya agak lebih mahal, yakni Rp450.000.

Rapid test merupakan salah satu syarat bagi penumpang angkutan udara niaga berjadwal maupun carter yang akan melakukan perjalanan ke luar kota. Aturan tersebut sesuai dengan Surat Edaran Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 7 Tahun 2020 dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 41 Tahun 2020.

Hasil rapid test ini berlaku untuk tiga hari. Penumpang diizinkan melakukan perjalanan jika hasil tes itu menunjukkan non-reaktif Covid-19.

Selain rapid test, opsi lain yang disyaratkan bagi penumpang penerbangan domestik adalah surat keterangan tidak memiliki gejala influenza yang dikeluarkan rumah sakit atau Puskesmas yang terakreditasi.

Sementara bagi penumpang rute internasional, mereka diwajibkan untuk mengantongi hasil tes polymerase chain reaction (PCR) yang menerangkan bebas dari Covid-19. Hasil tes ini masa berlaku lebih lama, yakni tujuh hari.

Sebelumnya, Garuda Indonesia mencetuskan rencana untuk menyediakan layanan rapid test bagi para penumpang untuk memberikan kemudahan kepada mereka.

“Ini (rapid test) dapat disediakan maskapai sehingga penumpang tidak perlu repot mencari tempat pengecekan yang hingga saat ini masih sulit,” ujar Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra pada 5 Juni lalu.

Baca juga:

Pecah Ban, Pesawat Garuda Tergelincir di Bandara Syamsudin Noor

Ini yang Bikin 2 Penerbangan di Bandara Syamsudin Noor Molor